NUSAKALIMANTAN.COM, Kuala Kapuas –
Kematian seorang anak berusia 10 tahun yang diduga akibat bunuh diri, adalah tragedi kemanusiaan. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, itu putus asa dengan keadaan yang dialaminya. Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya yang berusia 47 menjawab mereka tak punya uang.
Bagi keluarga mereka, mendapatkan uang dengan nominal itu memang tidak mudah. Rp 10.000 saja sulit bagi mereka yang tergolong masyarakat miskin. Ibu tersebut bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Ia janda yang menafkahi lima anak. Ironisnya untuk mengurangi beban korban diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok. Tak jauh dari pondok itulah korban mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkeh pada Kamis (29/1) lalu.
Dosen filsafat pada Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali, Selasa (3/2), berpendapat, kemiskinan ekstrem seringkali membunuh lebih awal imajinasi anak-anak untuk bahagia dan bergembira dalam hidup. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem itu tidak tahu tujuan hidup mereka.
Menanggapi hal ini, Plt. Camat Bataguh Dino Aris Fahreza mengeluarkan surat resmi dari Pemerintah Kecamatan Bataguh yang ditujukan kepada seluruh Kepala Desa dan Kepala Sekolah di wilayah Kecamatan Bataguh berempati pada Tragedi Kemanusiaan ini. Surat dengan Nomor 420/51/KEC-BTGH/II.2026. dengan perihal Kepedulian dan pencegahan permasalahan sosial pada anak usia sekolah. Surat diawali dengan beberapa waktu lalu, terjadi peristiwa menyedihkan di Nusa Tenggara Timur, di mana seorang anak sekolah dasar meninggal dunia. Penyebabnya diduga adalah tekanan ekonomi yang dialami kaeluarganya, yang tidak mampu membeli buku dan alat tulis untuk sekolah. Ini menjadi perhatian serius bagi semua orang,
“Pemerintah Kecamatan Bataguh sangat prihatin dengan kejadian tersebut dan ingin mencegah hal yang sama terjadi diwilayah kita. Untuk itu mengeluarkan surat imbauan untuk Kepala Desa dan Kepala Sekolah. Bertujuan agar lebih peka dan peduli terhadap anak-anak, terutama yang berasal dari keluarga yang kurang mampu,” terang Dino Aris Fahreza.
Selanjutnya Plt Camat Bataguh ini mengharapkan para pemimpin di desa dan sekolah diminta untuk lebih peka terhadap kondisi anak-anak yang mungkin mengalami kesulitan, terutama yang berasal dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi.
Cranya dengan melakukan pendataan dan pemantauan terhadap siswa yang mungkin menghadapi masalah ekonomi, psikologis, atau sosial dalam proses belajar mereka,
” Kita tekankan pentingnya menghindari segala bentuk tekanan atau perlakuan yang dapat menyakiti perasaan anak-anak, baik di sekolah maupun di lingkunganu masyarakat. Peran guru, wali kelas, dan tokoh masyarakat diharapkan dapat membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak dan orang tua mereka. Adapun solusi bersama, seperti memanfaatkan dana desa atau bantuan sosial, agar anak-anak tetap bisa bersekolah dengan baik,” ungkap Dino Aris Fahreza.
Ia menambahkan jika ada kasus anak yang putus sekolah atau mengalami tekanan berat, mereka harus segera melaporkannya kepada pihak kecamatan. Contoh untuk Memahami miisalnya, jika ada seorang anak bernama Budi yang tidak memiliki buku sekolah karena keluarganya tidak mampu membelikan, maka Kepala Sekolah dan Kepala Desa harus segera mencari tahu tentang kondisi Budi. Mereka bisa membantu Budi dengan memberikan buku bekas, atau mencari bantuan dari donatur agar Budi bisa tetap bersekolah tanpa merasa tertekan,
” Melalui Surat ini tadi adalah merupakan panggilan untuk semua pemimpin di Kecamatan Bataguh agar lebih peduli terhadap anak-anak yang membutuhkan. Dengan bekerja sama, mereka bisa memastikan bahwa semua anak, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang dengan baik. Ini adalah langkah penting untuk mencegah kejadian tragis seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur,” pungkas Dino Aris Fahreza (wan)
NusaKalimantan.Com Kanal Informasi yang Lugas, Cerdas, Terpercaya