Sabtu , 28 Maret 2026

Kesepakatan Kegiatan Rutin Laluhan Pada HUT Kapuas disebut Banama Hai

NUSAKALIMANTAN.COM, Kuala Kapuas – Untuk ke tiga kalinya, kesepakatan terkait program rutin tahunan pada acara Laluhan kembali dilaksanakan. Karena kesepakatan ini memediasi agar tidak ada bersinggungan baik antara tokoh agama, tokoh adat, pemerhati budaya dan lainnya. Serta upaya pelestarian kegiatan yang telah menjadi aset bagi Kabupaten Kapuas.

Acara rapat kesepakatan ini dilaksanakan di Ruang Kepala Kantor Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Kapuas Jalan Tambun Bungai Kuala Kapuas, Jumat (27/3) pukul 09.00 WIB. Rapat menghasilkan kesepakatan yang dituangkan dalam berita acara dan ditanda tangani bersama tokoh tokoh yang hadir. Juga mendatangkan Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan dari Provinsi.

Hadir dari Majelis Besar Agama ini Hindu Kaharingan Provinsi Kalimantan Tengah.
Drs Walter S penyang, Dr. Pranata, S.Pd.,M.Si., dan Parada, S.Ag.,M.Si., Dewan Adat Dayak Kabupaten Kapuas Gumer L Satu, Damang Selat Manli,SH., Damang Bataguh Darmandi,SH., Sampet Dang Dadahup, Sulatin, S.Pd., dan Untung, Sp.Pd.,MA., Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan, Erliansyah A.Md., Penggiat Seni, Helfrid Nuah, S.Sos., Ketua Komunitas Ekonomi Kreatif Kabupaten Kapuas, Deni Valiandra, S.Pd., PSDKT Tantara Lawung Kabupaten Kapuas, Ivan Yulius, S.Pt., ME., Kepala bidang Kebudayaan Disparbudpora Kapuas dan staff lainnya, serta para ekonom undangan lainnya.

Plt. Kepala Disparbudpora Kabupaten Kapuas Budi Kurniawan, S.Sos.,M.Si., yang diwakili Kepala Bidang Kebudayaan Ivan Yulius, S.Pt., ME., menyampaikan dalam pertemuan itu seperti yang tertuang dalam berita acara telah menyepakati nama untuk acara Laluhan menjadi Banama Hai, Acara budaya Nambang Tamuei Mantir Hai, Nakep Pangaja Salutan Raja. Rangkaian dalam pelaksanaan kegiatan “Banama Hai” memperbolehkan untuk diadakan Hapunu Suli. Sangkai Lunuk atau Sangkai Kambang dan lain-lain,

” Untuk Sababuka dan manganjan pada rangkaian tersebut ditiadakan digantikan dengan tari Manasai, tari kinyah dan tari tarian daerah lainnya. Untuk musik dapat diisi musik daerah atau lokal. Sebelum acara Banama Hai diadakan pelaksanaan batawur oleh pemuka agama atau basir atau pisur. Untuk pelaksanaan malahap diganti dengan Manukiu (Uuuuu Kiww),” terang Ivan Yulius.

Sementara mengulas tentang acara yang sebelumnya disebut Laluhan ini, Nusakalimantan.com telah mewawancarai Erliansyah perhatian Budaya dan putra dari Narpan M Apoi (Damang) menceritakan
Sejarah “LALUHAN” Dalam Rangka Hari Jadi Kota Kuala Kapuas Pada Tanggal 21 Maret 1806 Dan HUT Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Pada Tanggal 21 Maret 1951. Pencetus Pertama Ritual Adat Dan Budaya ” Lanting Laluhan Raja Bangkar Selan Sandan Kanaruhan” Atau Laluhan Dalam Rangka Hari Jadi Kota Kuala Kapuas Oleh Tokoh Adat Kalimantan Tengah Damang Kepala Adat Yohanes Salilah Dan Damang Narpan.M.Apoi, Karamu Nihin (Pisor/Telon). Awal Mulanya saat Penyambutan Kedatangan Presiden Ir.Soekarno Di Kuala Kapuas Pada Tanggal 15 Juli 1957, Menggunakan Acara Ritual Adat Dan Budaya “Laluhan” Dari Muara Anjir Serapat Menuju Ke Pelabuhan Rumah Jabatan Bupati Kapuas Yang Di Sambut Acara Adat Manetek Pantan Yang Di Pimpin Oleh Bapak Narpan.M.Apoi (Alm) Damang Kepala Adat Di Dampingi Oleh Bapak.R.Prajito Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kapuas, Dan Tokoh Adat Toko Masyarakat Kabupaten Kapuas Pada Masa Itu,

“Besama-sama Dengan Masyarakat Kabupaten Kapuas Menyaksikan Langsung Penyampaian Pidato Secara Langsung Presiden RI Pertama Ir.Soekarno di Lapangan Bukit Ngalangkang Yang Datang Berkunjung Ke Kota Kuala Kapuas Pada Saat Itu, sebelum Melanjutkan Perjalanan Ke Desa Pahandut Dalam Rangka Pemancangan Tiang Pertama Peresmian Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah Pada Tanggal 17 Juli 1957,” terang Erliansyah.

Erliansyah yang sekarang ini juga menjabat sebagai Lurah Pulau Kupang menambahkan peran dari Laluhan Lanting Laluhan Raja Selan Sandan Kanaruhan” yang menjadi awal mulanya dipakai sebagai sarana penyambutan tamu terhormat penjabat negara yang dicetus seorang tokoh dayak Bapak Damang Yohanes Salilah dalam acara ritual adat dan budaya dayak “Laluhan” di Kota Kuala Kapuas dalam penyambutan kedatangan Bapak Ir.Soekarno Presiden Republik Indonesia yang pertama berkunjung ke Kota Air Kabupaten Kapuas,

“Pada kunjungan Mentri Dalam Negeri Bapak Roslan Abdul Gani berserta rombongan disambut dengan acara Ritual Adat dan Budaya “Laluhan” sewaktu tiba di Kota Kuala Kapuas dan acara “Pantan Gahung” potong pantan didepan Rumah Jabatan Bupati Kapuas pada tahun 1959 dalam rangka meninjau pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah. Berawal dari saat itulah tradisi penyambutan penjabat negara yang datang ke Kabupaten Kapuas disambut menggunakan acara ritual adat dan Budaya Dayak “Laluhan” dann juga dilaksanakan dalam setiap perayaan Hari Jadi Kota Kuala Kapuas 21 Maret 1806 Dan Hut Pemerintah Daerah ditetapkan pada tanggal 21 Maret 1951 menjadi Kegiatan rutin acara tersebut dilaksnakan yang tertuang dalam “Buku Sejarah Kota Kuala Kapuas Tahun 1981″ sampai dengan saat Ini tetap dilaksanakan,” jelas Erliansyah (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *