Selasa , 10 Februari 2026

Lurah Pulau Kupang Tinjau Pendalaman Sungai dan Kayu Ulin Bersejarah

NUSAKALIMANTAN.COM, Kuala Kapuas – Lurah Pulau Kupang Erliansyah yang selalu kreatif, penuh inovasi untuk selalu berbenah menggagas dan melakukan yang terbaik untuk wilayah yang dipimpinnya, yaitu Kelurahan Pulau Kupang. Satu satunya kelurahan di dalam wilayah Kecamatan Bataguh.

Terlebih lagi keberadaan Kelurahan Pulau Kupang, memiliki keragaman yang menarik, seperti adanya Pulau yang merupakan habitat dari hewan primata Bekantan hewan khas Kalimantan. Serta adanya lokasi bersejarah Situs Nyai Undang.

Lurah Pulau Kupang bersama Ketua LKMK Sugian Noor dan beberapa Ketua RT dalam wilayah Kelurahan Pulau Kupang pada Sabtu (7/2) meninjau ke Situs Nyai Undang yang bersejarah dimana terdapat benteng berbentuk elip, dengan kayu Ulin yang menjadi dinding. Dikenal sebagai Kuta Bataguh. “The Lost City” di Tengah Hutan Kalimantan. Berdasarkan jurnal arkeologi tim peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin dan Museum Geologi Bandung, di daerah di dalam Kelurahan Pulau Kupang ini pernah berdiri sebuah kota yang dikelilingi sebuah benteng tinggi, lengkap dengan bangunan pemukiman, perahu serta handil untuk pertanian di dalam wilayahnya. Kota ini disebut Kuta Bataguh. Dalam cerita turun temurun, salah satu penguasa Kuta Bataguh bernama Nyai Undang.

Kuta Bataguh atau ada juga yang menyebut sebagai Pematang Sawang adalah pemukiman orang Ngaju. Pagar yang dibuat tinggi ditambah kanal sekelilingnya diyakini sebagai bentuk pertahanan terhadap praktik pengayauan atau pemburu kepala oleh pihak suku yang bersaing. Keberadaan Kuta Bataguh diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 Masehi.

Dari penelitian diketahui Kuta Bataguh memiliki pagar keliling sepanjang 3 km, di dalamnya masih terdapat tiang-tiang ulin bekas pemukiman. Penggalian yang dilakukan di sekitar wilayah ini menemukan berbagai bentuk gerabah, potongan kayu ulin, arang dan tulang, keramik serta manik-manik. Sekitar tahun 1987, masyarakat melakukan penggalian sendiri dan banyak mengambil benda-benda berharga bekas peninggalan Kuta Bataguh.

“Kita bersama dengan kawan kawan mendatangi lokasi untuk melihat temuan kayu Ulin berusia ratusan tahun peninggalan Benteng Kuta Bataguh dikawasan Situs Kerajaan Nyai Undang. Terus kita jaga dan lindungi Artepak sebagai bukti peninggalan sejarah,” terang Erliansyah saat dihubungi Senin (9/2) melalui WhatsApp.

Selanjutnya Erliansyah mengatakan lagi meninjau pekerjaan pendalaman alur sungai di Kelurahan Pulau Kupang. Maksud dari dilakukannya pengerukan atau pendalaman tersebut agar pemanfaatan sungai lebih maksimal untuk pengairan sawah pasang surut dan kelancaran akses transpotasi,

“Seperti diketahui penduduk di wilayah pulau Kupang masih menggunakan transportasi air. Terutama yang berada pada wilayah seberang, dimana akses jalan masih belum merata terhubung sehingga menggunakan jalur air,” pungkas Erliansyah (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *