Minggu , 28 November 2021
Pulau Mintin
Pulau yang berada di tengah sungai di DAS Kahayan disebut Pulau Mintin ini menyimpan kisah legenda seekor buaya yang menjaga air sungai agar tidak asin (Foto : Arsip Setda Pulang Pisau)

Kisah Awal Mula Mengapa Air Sungai Kahayan Tidak Asin Menurut Cerita Rakyat

NUSAKALIMANTAN.COM –  Sudah pernah mendengar air sungai di DAS Kahayan tidak pernah asin, itu fakta. Padahal berada tidak jauh dari muara laut Bahaur, Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau.

Konon katanya ada seekor buaya yang tinggal di perbatasan pulau Mintin yang menjaga air agar tidak asin atas perintah ayahnya yang seorang raja.

Bermula kisah pada zaman dahulu di Pulau Mintin daerah Kahayan Hilir terdapat sebuah kerajaan. Kerajaan ini termasyhur kemana-mana, karena kemakmurannya di bawah pimpinan seorang raja yang adil dan bijaksana. Konon pada suatu ketika permaisuri raja yang sangat dicintainya meninggal dunia.

Sejak itu raja nampak selalu sedih dan murung dan Baginda pun tidak dapat lagi mencurahkan seluruh perhatiannya kepada pemerintahan kerajaan. Hal ini mengakibatkan kejayaan kerajaan semakin mundur dan suram. Untuk mengatasi keadaan ini raja memanggil kedua putra kembarnya yang bernama Naga dan Buaya.

Kepada kedua puteranya ini Baginda menjelaskan panjang Iebar situasi kerajaan yang semakin mundur dan keadaan kesehatan Baginda sendiri yang selama ini selalu sakit-sakit. Guna menanggulangi keadaan itu raja menyerahkan pimpinan kerajaan kepada kedua puteranya ini, sedang Baginda sendiri akan pergi berlayar untuk mengobati sakit hatinya.

Kedua putera raja ini menyambut baik maksud ayahnya dan berjanji akan melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Setelah mempersiapkan segala perbekalannya raja pun berangkat berlayar. Adapun tujuannya tidak diberitahukannya kepada kedua puteranya tadi.

Sejak kepergian ayahnya, maka pimpinan kerajaan dipegang bersama oleh kedua putera raja ini. Mereka berdua ini mempunyai watak yang berbeda. Naga mempunyai watak senang berfoya-foya dengan wanita, mabuk-mabukkan dan bejudi. Untuk mencapai maksudnya dan memuaskan dirinya ia tidak segan-segan menjual harta benda milik kerajaan yang ada di istana.

Sedang saudaranya Buaya mempunyai watak pemurah, ramah tamah, tidak boros dan suka menolong. Hari demi hari, bulan demi bulan, semakin berkuranglah harta-benda kerajaan karena perbuatan Naga dan suasana kerajaan menjadi semakin memburuk.

Kemelaratan dan kemiskinan rakyat semakin menjadi-jadi. Buaya semakin marah kepada saudaranya Naga, yang tidak melaksanakan amanat ayahnya Sri Baginda. Ia tidak dapat membiarkan hal ini menjadi berlarut-larut. Ia harus segera mengambil tindakan tegas terhadap perbuatan Naga. Akhirnya tezjadilah pertengkaran antara kedua bersaudara ini

yang mengak.ibatkan suatu perkelahian yang seru. Prajurit kerajaan pun terbagi dua, sebahagian memihak kepada Naga dan sebahagian lagi memihak kepada Buaya. Perkelahian semakin berkecamuk dan korban pun bergelimpangan. Adapun Sri Baginda raja yang sedang berlayar tadi, tiba-tiba mendapat suatu firasat yang tidak baik.

Hatinya berdebar-debar dan gelisah. Dengan kesaktiannya ia pun segera berbalik pulang dan sekejap mata saja Baginda telah tiba di kerajaannya. Betapa murkanya Baginda kepada kedua putranya dan Baginda pun segera memperhentikan pertempuran itu. Naga dan Buaya menceriterakan kepada Sri Baginda · asal mula teijadinya perkelahian mereka.

Kemudian raja berkata, “Kalian telah melanggar pesanku dan menyia-nyiakan kepercayaan yang kuberikan. Untuk itu hukumankulah yang akan kalian terima. Naga jadilah engkau Naga . yang sebenarnya dan hidup di dalam air. Buaya jadilah engkau Buaya yang sebenarnya dan hidup pula dalam air. Buaya karena kesalahanmu tidak begitu berat, maka menetaplah engkau di daerah ini untuk menjaga pulau Mintin ini.

Selain itu engkau harus mampu membendung masuknya air asin ke daerah ini. Sedangkan engkau Naga harus menjaga agar disepanjang sungai Kapuas jangan ditumbuhi oleh Cendawan Bantilungn dan tinggallah engkau di sana.

Sehabis raja mengucapkan hukuman (kutukannya) kepada kedua puteranya ini, maka hujan pun turun dengan lebatnya diiringi kilat dan petir. Kedua putera raja ini pun berubahlah menjadi Naga dan Buaya yang sebenarnya dan masuklah ke dalam air. Buaya hidup di daerah Pulau Mintin sedangkan Naga pergi ke sungai Kapuas. Dan menurut masyarakat setempat Anjir Kalampan adalah bekas Naga lewat menuju Kapuas.

(Demikian kisah ini dikutif dari CERITA RAKYAT KALIMANTAN TENGAH berjudul Kutukan Raja Mintin yang diterbitkan Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Jakarta 1982 sesuai teks kisah aslinya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *