NUSAKALIMANTAN.COM, Kuala Kapuas – Indek Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kota Kuala Kapuas pada Senin (12/10) pukul 05.00 WIB berkisar pada angka 2410 lalu pada pukul 07.00 WIB meningkat menjadi 4850 lalu pada pukul 10.00 WIB berubah menurun menjadi 1622, kesemuanya dalam kondisi berbahaya, walaupun terjadi perubahan. Kondisi ini membuat Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kuala Kapuas, melalui Ketua H Ushansyah, S.Sos., M.AP., menyarankan mahasiswa maupun dosen dan tenaga lainnya dalam lingkungan kampus, gunakan masker untuk pencegahan resiko terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut dan lainnya.
Ketua STAI Kuala Kapuas bersama Yayasan Perguruan Tinggi Islam Al-Mukarram yang juga biasa dikenal juga dengan Yayasan Perguruan Tinggi Islam / YPTI Kapuas belum mengambil langkah melakukan kuliah jarak jauh seperti perguruan tinggi lainnya yang terdampak langsung karena berdekatan dengan hot spot atau titik api. Seperti contohnya di Banjarmasin kampus Uniska yang memang terdampak tidak jauh dari kampus lokasi kebakaran lahan terjadi,
“Terlebih lagi perkuliahan di kampus kita ini dilaksanakan pada siang sore dan malam dimana dampak ISPU biasanya telah terjadi penurunan. Seperti yang diterangkan dari Petugas dari Dinkes tentang kondisi ISPU yang bisa dilihat melalui aplikasi. Tapi melindungi diri akan bahaya pencemaran karena memang dalam kondisi berbahaya tetap kita himbau menggunakan masker serta upaya pencegahan lain. Misalnya konsumsi vitamin dan obat pencegahan terhadap gangguan pernapasan,” ungkap H. Ushansyah saat ditemui di Kantor Ketua STAI Kuala Kapuas Komplek Mesjid Agung Al Mukarram Jalan Tambun Bungai Kuala Kapuas. Senin (12/10) pagi.
Bahaya akibat terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan ( Karhutla) ini diakui H Ushansyah berdampak pada semua sektor. Jadi bukan hanya kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Tetapi juga pada hal lainnya, seperti keamanan berkendara karena jarak pandang yang terbatas. Karena itu kita juga menyarankan pada mahasiswa maupun dosen dan lainnya dilingkungan kampus agar berhati hati saat dijalanan dengan pandang tidak bisa leluasa tertutup kabut asap ini. Untungnya juga di wilayah kita tidak separah wilayah tetangga,
” Kita tetap selalu berhati hati dalam situasi kemarau ini yang tentu saja serba kekeringan yang kemudian akan memicu kebakaran serta hal yang lainnya. Kondisi air juga sulit yang mengusahakan sanitasi dan keperluan lainnya bergantung dengan kondisi ketersediaan air. Kita bersama berdoa dan memohon pada Allah SWT semoga kemarau cepat berlalu dan kondisi alam kita kembali normal,” harap H Ushansyah (wan )
NusaKalimantan.Com Kanal Informasi yang Lugas, Cerdas, Terpercaya