Senin , 19 Oktober 2026

Menyiasati Penanaman Bibit Disaat Kemarau Panjang Siswa PKL di Lahan P4S Kalampan Jaya

NUSAKALIMANTAN.COM, Kuala Kapuas – Apresiasi dari Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas Edi Dese ditujukan kepada para petani, penyuluh, mahasiswa dan pelajar pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan seluruh pihak terkait atas dedikasi mereka dalam menjaga swasembada pangan berkelanjutan dan melakukan percepatan tanam meskipun dihadapkan pada tantangan musim kemarau panjang. Salah satu solusi dengan Irigasi sprinkler yaitu metode pemberian air dengan cara menyemprotkan air ke udara melalui nosel atau kepala penyiram, sehingga jatuh ke permukaan tanah menyerupai curah hujan,

” Di tengah ancaman kemarau, pihak Dinas Pertanian bersama Pemkab Kapuas bergerak cepat menyusun Raperda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Langkah hukum ini dibarengi janji pemberian insentif nyata bagi petani berupa bantuan sarana produksi (saprodi) dan tambahan alsintan agar petani tetap termotivasi menggarap lahannya secara berkelanjutan. Tetap semangat ditengah wabah melanda dan mencari solusi untuk menyiasati. Upaya pompanisasi massal untuk menyedot air dari saluran primer ke kuarter (seperti yang dilakukan bersama tim UPI BWS Kalimantan II) dinilai menjadi penyelamat krusial bagi puluhan hektare lahan yang terancam kekeringan. Kolaborasi aktif petani bersama penyuluh lapangan dalam memetakan sumber air berjalan dengan sangat baik,” pesan Edi Desse disaat ada pertemuan dalam suatu momen.

Pembina PKL SMK 2 Mantangai dan SMK 3 Kuala Kapuas, yang melakukan Praktek di Lahan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Kalampan Jaya Yanir, S.Sos., disela melakukan penanaman bibit seperti lombok, terong ungu, terong hijau, tomat, jagung dan lainnya. Kegiatan dilaksanakan Sabtu (17/10) pukul 15.30 WIB. Yanir mengatakan selaku petani atau pekebun, kita tentu jangan sampai menyerah pada kondisi alam ini. Supaya program penanaman tetap berjalan kita menyiasati penanaman bibit di musim kemarau memerlukan manajemen air yang ketat, dan sistem pompanisasi atau penyiraman menggunakan slang air , yang merupakan solusi utama untuk mengalirkan air dari sumber alternatif ke lahan pertanian. Pompanisasi terbukti efektif menjaga kelembapan tanah kritikal yang dibutuhkan bibit pada fase awal pertumbuhannya,

“Strategi menyiasati tanam bibit saat kemarau dengan mengoptimalkan sistem pompanisasi beserta teknik pendukung. Menyalurkan air dari pompa menggunakan jaringan pipa atau selang langsung ke area bedengan atau plot tanam. Hal ini mencegah air hilang akibat meresap ke tanah atau menguap. Kita tidak bisa menggunakan springkle seperti yang disebutkan Kadis Pertanian Pak Edi Dese, karena kolam airnya surut. Sedang springkle kita bukan yang portabel atau bisa dibawa kemana mana. Makanya kita dengan pompanisasi. Harapan kita semoga saja nanti ada bantuan pompa springkle portabel,” harap Yanir.

Siswa yang melakukan penanaman menyambut baik pengalaman menjalankan program penanaman pada sore ini, disamping mereka telah mengenal pupuk organik ramah lingkungan dengan media pembungkus daun pisang, lalu penanaman bibit dalam lahan. Karena selama ini karena keterbatasan lahan kami hanya punya pengalaman menggunakan media polibag. Terlebih lagi ada solusi pengamanan disaat kemarau panjang ucap M Akbar dan Marcel.

Terpisah Nidaul Hasanah menyampaikan hal yang sama pengalaman menanam di saat musim kemarau biasanya berfokus pada perjuangan, nilai air, ketekunan, dan adaptasi. Menanam di musim kemarau memberikan pelajaran hidup yang jauh lebih mendalam daripada menanam di musim hujan karena tantangannya yang tinggi. Menyadari berharganya Setiap Tetes Air,

“Menanam di saat kemarau menyadarkan saya bahwa air adalah kemewahan. Jika biasanya kita menyiram tanaman tanpa berpikir panjang, saat kemarau kami harus sangat bijak. Setiap tetes air sangat berharga untuk memastikan bibit yang kami tanam tidak mati kekeringan.” Ucap Nidaul Hasanah (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *