Minggu , 28 November 2021
Penelusuran MUI Pulpis
MUI Pulpis berkunjung ke kediaman Tuan Guru H Ahmad Daudi Dalam Pagar Martapura dan berdialog dengan penjaga makam Datu Sanggul, Rantau, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalsel

Penelusuran MUI Pulpis Mengungkap Misteri Kitab Barencong (Bag.3 – Selesai)

NUSAKALIMANTAN.COM, Banjarmasin – Upaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pulang Pisau untuk mengungkap misteri Kitab Barencong yang menjadi kontroversi di kalangan masyarakat muslim terus dilakukan hingga ke akar-akarnya.

Kali ini, rombongan yang terdiri dari 9 orang pengurus MUI dan 1 orang dari anggota Sat Intel Polres Pulang Pisau menyambangi salah seorang ulama yang memiliki garis keturunan terdekat dengan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan.

Dia adalah Tuan Guru H Ahmad Daudi Al Irsyadi Bin H Muhammad Irsyad Zen yang juga pencatat manakib Datu Kalampayan dan hingga sekarang masih menyimpan jubah dan Al Qur’an tulisan tangan Datu Kalampayan di rumah kediamannya di Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.

Pertanyaan yang sama diajukan oleh Ketua MUI Kabupaten Pulang Pisau Ustadz H Suriyadi kepada Guru Daudi mengenai keberadaan Kitab Barencong yang banyak beredar berupa fotokopi dan cetakan terbatas bersampul foto Datu Sanggul, yang merupakan sahabat dekat Datu Kalampayan.

“Tidak ada yang namanya Kitab Barencong, darimana mereka dapatkan, kalau memang sumbernya dari Datu Kalampayan pasti sudah ada di tempat kami, karena beberapa pusaka peninggalan dari Datu Kalampayan kami yang memegangnya, seperti Alqur’an tulisan tangan, dan jubah gamis, selendang Datu Kalampayan dan barang-barang lainnya,” kata Guru Daudi, Sabtu (28/8/2021) akhir pekan lalu.

Tuan Guru H Ahmad Daudi juga mengingatkan masyarakat muslim agar tidak mudah percaya dengan seseorang yang mengaku pernah belajar Kitab Barencong dan mencoba mengajarkannya kepada masyarakat. “Hati-hati ajaran seperti itu bisa menyesatkan bagi masyarakat,” tuturnya singkat.

Baca juga : Penelusuran MUI Pulpis Mengungkap Misteri Kitab Barencong (Bag-2)

Dari kisah penelusuran yang diceritakan pada bagian 1, 2, dan 3 ini, atas keterangan sejumlah Tuan Guru zuriat dari Datu Kalampayan, rata-rata mereka mengaku tidak pernah melihat atau belajar Kitab Barencong seperti yang disebutkan itu.

“Para Tuan Guru yang kami datangi semuanya mengaku tidak pernah melihat secara fisik Kitab Barencong ini, atau belajar dari ayah dan guru-guru mereka. Sehingga kami menyimpulkan bahwa tidak ada Kitab Barencong di pihak Datu Kelampayan dan keturunan-keturunannya. Bagaimana di pihak Datu Sanggul, mari besok Minggu kita ke Kota Rantau, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalsel, disana kita akan bertanya langsung kepada penjaga makam Datu Sanggul bagaimana kisah Kitab Barencong ini,” ucap Ustadz H Suriyadi.

Setelah beristirahat malam hari di penginapan, rombongan pengurus MUI Kabupaten Pulang Pisau kembali melanjutkan penelusuran ke Kota Rantau pada Minggu (29/8/2021) pagi. Usai ziarah makam Datu Sanggul yang saat ini mulai ramai dikunjungi, rombongan kemudian menyambangi penjaga makam Datu Sanggul tak jauh dari lokasi makam.

Pertanyaan kembali diajukan, penjaga makam pun memulai kisahnya menceritakan pertemuan Datu Kalampayan dengan Datu Sanggul Mekkah kurang lebih 300 tahun lalu. “Nama Datu Sanggul yang terkenal di Rantau adalah Abdusamad, ada juga seorang pendatang mengatakan bahwa nama Datu Sanggul yang asli adalah Ahmad Sirajul Huda. Beliau dikisahkan berasal dari Palembang merantau ke tanah Borneo untuk menuntut ilmu kesempurnaan,” cerita penjaga makam Datu Sangggul.

Baca juga : Penelusuran MUI Pulpis Mengungkap Misteri Kitab Barencong (Bag-1)

Beliau (Datu Sanggul), sambungnya, bertemu dengan Datu Kalampayan di Mekkah, pertemuan keduanya berawal ketika Datu Kalampayan ke Masjidil Haram dan menemukan seorang laki-laki membawa tas dan baju dan memakai penutup kepala khas Kalimantan Selatan. Kemudian keduanya berkenalan dan diajak ke rumah kediaman Datu Kalampayan di Mekkah, karena saat itu Datu Kalampayan sedang menuntut ilmu di Mekkah selama kurang lebih 30 tahun.

Singkat cerita, lanjut penjaga makam, setelah keduanya sering bertemu khususnya saat sholat Jumat di Masjidil Haram, suatu kali Datu Sanggul menitipkan satu kitab yang kemudian dibagi dua, satu sisi Ilmu syari’at dan hakikat, satu sisi lagi ilmu kesaktian atau kedigjayaan. “Datu Kalampayan memegang satu sisi kitab yang berisi ilmu syari’at dan hakikat, sementara Datu Sanggul memegang kitab ilmu kesaktian atau kedigjayaan,” ujarnya.

Saat itu, imbuh penjaga makam, Datu Sanggul berwasiat jika ingin berkunjung ke kediamannya di daerah Rantau agar membawa kain putih. “Waktu Datu Kalampayan sampai di Borneo (orang dulu menyebut Kalimantan) langsung mendatangi kediaman Datu Sanggul, ternyata Datu Sanggul berada di dalam kelambu dan berwasiat kepada sang istri agar jangan membuka kelambu kecuali tamu yang akan datang membawa kain putih.” kisahnya.

Sewaktu Datu Kalampayan membuka kelambu, yang nampak oleh Datu Kalampayan hanya genangan air menyerupai air di atas daun keladi. Datu Kalampayan pun berujar, jika seperti ini pertemuan terakhirnya bagaimana dia akan menyelenggarakan jenazah. Datu Kalampayan sudah tahu kalau Datu Sanggul sudah wafat. Kemudian kain putih tersebut ditutupkan ke genangan air tersebut, dan perlahan kain bergerak ke atas menandakan jasad Datu Sanggul kembali seperti semula.

“Datu Kalampayan pun memimpin penyelenggaraan jenazah Datu Sanggul, menurut cerita sampai beberapa hari tinggal di Rantau memimpin arwahan Datu Sanggul. Sebelum pulang ke kampung halaman, Datu Kalampayan bertanya kepada istri Datu Sanggul adakah Datu Sanggul berwasiat berupa kitab, dijawab sang istri ada, kemudian kitab itu diserahkan kepada Datu Kalampayan, dan dibawa ke dalam pagar,” tutur penjaga makam.

Pria paruh baya penjaga makam ini mengakui bahwa di Rantau ini tidak ada satu pun zuriat dari Datu Sanggul, karena menurutnya, Datu Sanggul tidak memperoleh anak dari perkawinannya dengan seorang wanita warga Rantau, sebab menikah di usia yang cukup tua. “Sehingga zuriat beliau putus, sementara yang menjaga makam termasuk saya sendiri adalah orang kampung yang diamanahkan menjaga makam Datu Sanggul ini,” katanya.

Ditanya keberadaan kitab yang disebutkan dalam kisah tersebut apakah Kitab Barencong, penjaga makam menjawab tidak tahu pasti karena tidak pernah melihat bentuk asli kitabnya, dan di Rantau sendiri tidak ada pengajian yang mengajarkan Kitab Barencong. “Kalau menurut riwayat kitab itu ada di tangan Datu Kalampayan,” sebutnya.

Menanggapi hal ini, Ketua MUI dan rekan-rekan pengurus MUI diantaranya Sekretaris MUI Khairani, Sekretaris PC NU Nasrun Rambe, Ketua Komisi Fatwa MUI Drs H Khairil Anwar, Bendahara MUI Muliani, Wakil ketua MUI Ustadz Hamdani, anggota komisi fatwa MUI Ustadz H Junaidi dan beberapa anggota MUI lainnya, serta didampingi salah seorang anggota Sat Intel Polres Pulang Pisau menyimpulkan bahwa jika memang Kitab Barencong itu ada maka posisinya saat ini berada di tangan Datu Kalampayan dan zuriatnya.

“Setelah kita datangi beberapa ulama zuriat Datu Kalampayan, menurut pengakuan mereka tidak ada yang pernah melihat keberadaan Kitab Barencong ini, namun hanya mendengar kisah-kisahnya saja seperti kisah legenda, sehingga kami menyimpulkan bahwa Kitab Barencong tersebut adalah misteri. Sementara buku-buku atau naskah berupa fotokokpi yang beredar tersebut sudah dapat dipastikan bukan Kitab Barencong,” terang Ketua MUI Pulang Pisau Ustadz H Suriyadi. Selesai. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *