NUSAKALIMANTAN.COM, Kuala Kapuas – Bimbingan Teknis Kurikulum Berbasis Cinta (Bimtek KBC) dilaksanakan dari tanggal 27 – 31 Oktober 2026 dan diikuti 42 kepala sekolah dari berbagai jenjang di Kabupaten Kapuas. Bahkan ada yang dari Banjarbaru Kalimantan Selatan sebanyak 5 peserta. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kapuas Jalan Tambun Bungai Kuala Kapuas.
Kepala Kantor Kemenag Kapuas H. Achmad Farichin melalui Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) H. Hasbullah menjelaskan acara bimbingan teknis ini di pandu oleh Widyaiswara balai Diklat keagamaan ( BDK) di Banjarmasin. Ini merupakan angkatan pertama. Untuk angkatan kedua dan seterusnya akan dilaksanakan secara bertahap. Sebagai keterangan ini bukanlah kurikulum baru yang mengganti Kurikulum yang ada yaitu Kurikulum Merdeka, tapi ini menekankan pendekatan nilai yang dinsersi ke kurikulum yang sudah ada,
“Analoginya seperti infused water, seperti dijelaskan Guru Besar UPI Rudi Susilana: “Air putih tetap air putih, tapi diberi irisan lemon agar lebih menyegarkan. Jadi kurikulum tetap, tapi diberi nilai-nilai kemanusiaan”. Tidak ada tambahan mata pelajaran, hanya penguatan dimensi pengalaman dan refleksi nilai,” terang H Hasbullah.
H Hasbullah menjelaskan kalau KBC ini digagas oleh Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar. Diatur dalam Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta. Resmi diluncurkan Kamis, 24 Juli 2025 di Asrama Haji Sudiang, Makassar dengan tema mewujudkan cinta dalam ruh Pendidikan. KBC menempatkan nilai cinta, kasih sayang, empati, dan spiritualitas sebagai fondasi utama pendidikan,
“Tujuannya melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan. Bertumpu pada tiga landasan filosofis yaitu Pancasila, sosiologis dengan adanya keragaman Indonesia, dan psikologis mengacu pada perkembangan peserta didik. Hal ini dibeberkan oleh Rusman, pakar kurikulum dari BSKAP Kemendikbudristek,” jelas H Hasbullah.
Selanjutnya mantan Kasi Binmas Kemenag Kapuas ini membeberkan juga indikator cinta dalam pendidikan itu konkret. Penerimaan, komitmen, tindakan kasih sayang, rasa aman, hormat, keterbukaan, hingga dukungan emosional. Inti nilainya dikenal sebagai panca cinta, cinta kepada Tuhan Allah dan Rasul, cinta kepada diri dan sesama orang tua, guru, saudara, tetangga dan teman, cinta kepada alam lingkungan, cinta kepada ilmu, cinta kepada tanah air.
Di madrasah, kelima nilai ini diintegrasikan ke semua aspek pembelajaran, supaya murid bisa menginternalisasi nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari,
“Tugas menyanyi tidak hanya dinilai individu, tapi guru mengarahkan siswa bermusyawarah dalam kelompok. Disitu nilai kolaborasi ditanamkan. Proyek cinta digital yang menggabungkan diskusi Qur’ani dengan simulasi media sosial. Pembelajaran berbasis pengalaman, bukan hafalan aturan. Tujuannya bukan cuma lulusan cerdas akademik, tapi juga dewasa secara sosial, tangguh secara emosional, dan bijaksana secara spiritual,” pungkas H Hasbullah (wan)
NusaKalimantan.Com Kanal Informasi yang Lugas, Cerdas, Terpercaya