NUSAKALIMANTAN.COM, KUUuala Kapuas – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian saat ini seharusnya berperan dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga berpotensi besar menjadi petani milenial yang inovatif dan berwirausaha. Hal itu bisa dicapai melalui kurikulum berbasis kompetensi dan modernisasi pertanian, SMK Pertanian mentransformasi citra pertanian dari pekerjaan konvensional menjadi bisnis menjanjikan.
Banyak lulusan SMK Pertanian yang sukses menjadi petani milenial modern dengan omzet jutaan rupiah, bahkan menerapkan konsep modern. Hal ini tentu saja diharapakan dukungan Pemerintah dan Program “Petani Milenial” dari Kementrian Pertanian mendorong keterlibatan siswa dan lulusan SMK dalam kelompok Brigade Pangan mengelola lahan luas dengan mekanisasi modern.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas Eddie Dese, SP.,M.Ikom., melalui Kepala Bidang Penyuluhan Rosyadi Fanrory, SP., mengatakan program petani milenial menargetkan pendapatan bersih hingga mencapai Rp10 juta perbulan melalui pengelolaan pertanian modern dan pemasaran digital bantuan alat mesin pertanian dan pelatihan untuk mengubah pola pikir bahwa bertani adalah pekerjaan keren. Adanya kombinasi kurikulum praktis, teknologi, dan dukungan wirausaha, SMK Pertanian menjadi fondasi penting bagi regenerasi petani di Indonesia,
“Pemerintah nantinya harapan kita dapat menggerakkan dan mengelola dengan serius, menumbuhkan minat bertani di kalangan pemuda tentunya tidak mudah apalagi dengan pendapatan dan keuntungan disektor pertanian bersifat tidak pasti, karena dipengaruhi oleh cuaca, hama, dan perawatan yang berisiko gagal panen lainnya. Namun dengan pendidikan sejak dini melalui minat usia remaja setelah SMP memilih SMK pertanian bida menghasilkan petani milenial yang siap berdaya guna. Sebagai bidang penyuluhan kita optimis jika ada semacam arahan pada anak menjelang memasuki SMTA dengan diberikan bayangan akan sesuatu yang menjanjikan di bidang pertanian ini, dapat menarik peminat,” ungkap Rosyadi Fanrory.
Teguh Setyo Utomo yang pernah menjabat Kepala Bidang Perkebunan juga sebagai Penguji Eksternal Agribisnis Tanaman Perkebunan mengatakan mainset satu misi utama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah mempersiapkan siswa untuk menjadi calon tenaga kerja yang siap memasuki dunia kerja setelah lulus. Sekolah harus dapat mempersiapkan siswa sesuai dengan Standar Pendidikan Nasional untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif secara profesional dibidangnya,
“Sebagai gambaran perkebunan untuk wilayah kita sebenarnya adalah sektor yang menjanjikan. Dengan adanya perkebunan, bisa dilihat dalam wilayah kita Kabupaten Kapuas terjadi peningkatan perekonomian. Walau ada juga sektor pertanian, tapi tidak seperti pendapatan dari sektor perkebunan. Untuk itulah SMK ini peluang untuk generasi membina potensinya,” ucap Teguh Setyo Utomo.
Yanir, S.Sos., salah Sorang pelaku perkebunan yang sukses mengatakan
dengan pengenalan dini berbagai rangkaian praktek langsung pada generasi milenial merupakan upaya pengenalan, sekaligus pengalaman untuk mendapatkan pengetahuan didalam menjalankan kerja. Sehingga sebelum menjadi petani milenial siswa telah mengetahui dan mendapatkan cara langsung seharusnya didalam bercocok tanam,
“Jadi bukan hanya menerima teori. Hal itu bisa didapatkan dari SMK Pertanian dan Bimtek petani. Merupakan hal yang menjadi pembeda siswa kejuruan dan siswa lulusan sekolah umum non kejuruan. Dimana mereka berinteraksi langsung dengan pelaku untuk berbagi pengalaman. Meraka para siswa mendapatkan wawasan dari bidang pendidikan yang mereka tempuh dari pelaku kegiatan dan ahli akademik,” terang Yanir(wan)
NusaKalimantan.Com Kanal Informasi yang Lugas, Cerdas, Terpercaya