NUSAKALIMANTAN.COM, Pulang Pisau – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) masih terjadi.
Namun, keberadaan dapur umum yang dikelola Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos PMD) Kabupaten Pulang Pisau melalui Taruna Siaga Bencana (Tagana) tiba-tiba dikabarkan “Stop” alias berhenti.
Padahal, keberadaan dapur umum tersebut menjadi salah satu bagian dari dukungan dalam menyediakan kebutuhan konsumsi bagi petugas maupun pihak yang terlibat dalam penanganan bencana, khusunya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kabar berhentinya operasional dapur umum itu sontak menjadi perhatian dan pertanyaan di tengah masih berlangsungnya penanganan Karhutla.
Pemerintah pun melalui dinas terkait dapat memberikan penjelasan terkait penghentian operasional dapur umum tersebut.
“Kami perlu tahu alasan dan kendala apa hingga dapur umum ini tiba-tiba terhenti dalam menyuplai makanan. Padahal, tim gabungan masih aktif melakukan pemadaman karhutla sejumlah titik,” ujar salah seorang tim pemadam karhutla yang enggan disebut nama kepada awak media ini, Kamis (17/9/2026).
Menyikapi hal tersebut, Dinas Sosial dan PMD Pulang Pisau melalui Bidang Pemberdayaan, Perlindungan dan Jaminan Sosial mengatakan bahwa kendala utama dihentikannya dapur umum Tagana tidak lain karena para relawan juru masak mengundurkan akibat kelelahan.
“Benar, para relawan juru masak memang sudah menyampaikan pengunduran diri. Mereka merasa sangat kelelahan dan merasa tidak sanggup lagi menyiapkan konsumsi untuk tim gabungan pemadam karhutla,” ujar Muhammad Noor Staf Bidang Pemberdayaan, perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial dan PMD Pulang Pisau kepada awak media ini.
Menepis isu liar di luaran, ia menjelaskan pengunduran diri para relawan juru masak dilakukan dengan pertimbangan cukup matang, mengingat kondisi dan keterbatasan relawan dalam menjalankan tugas secara terus-menerus.
Bayangkan, beber Muhammad Noor, sejak ditetapkan status siaga karhutla mereka para relawan juru masak sudah menjalankan tugas setiap hari ditengah keterbatasan personel.
Mereka, harus pulang pergi dari posko karhutla Tumbang Nusa ke kota Palangka Raya untuk membeli berbagai kebutuhan memasak seperti beras, sayur, ikan, dan sebagainya.
Sepulang belanja pun, ungkapnya, para relawan langsung melakukan prosesi memasak dalam jumlah besar.
“Belum lagi membungkus makanannya. Jadi kurang lebih 50 hari, sejak ditetapkan status siaga karhutla mereka sudah menjalankan tugas memasak. Nah, memasuki status tanggap darurat karhutla, para relawan juru masak merasa sudah tidak sanggup lagi hingga mereka mengundurkan diri,” tutur Muhammad Noor menceritakan.
Lebih lanjut, ia menyebut pengunduran diri para relawan juru masak ini pun sudah diumumkan pada saat status tanggap darurat diumumkan.
“Relawan juru masak sudah tidak sanggup lagi, dan langsung diumumkan pengunduran diri mereka saat status tanggap darurat ditetapkan. Jadi inilah kendala kenapa dapur umum Tagana di beroperasional lagi di tengah karhutla masih terjadi,” celetuk Muhammad Noor.
Bicara hal lain, setelah para relawan juru masak mengundurkan diri dan status tanggap darurat ditetapkan, poslap yang ada di setiap kecamatan diarahkan untuk membuka dapur umum dengan syarat mengikuti teknis yang ada di dapur umum tagana. Namun, pihak kecamatan tidak menyanggupi hingga dana insentif penanganan karhutla di kecamatan dibayarkan full.
“Laporan SPJ kita di dapur umum Tagana untuk bahan makanan yang akan dimasak berdasarkan RAB yang ada, bukan perbungkus,” tukasnya.
Terlepas hal tersebut, pihaknya berharap penanganan karhutla dan kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian. Koordinasi dengan unsur terkait terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan konsumsi maupun bantuan lainnya tetap dapat dipenuhi.
“Kami juga masih selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Semoga penanganan karhutla di daerah kita tetap berjalan dengan baik hingga situasi benar-benar dinyatakan aman,” tutupnya. (Abdmanan)
NusaKalimantan.Com Kanal Informasi yang Lugas, Cerdas, Terpercaya